Desa Banggle merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Secara geografis Desa Banggle terletak pada posisi 1120 BT – 1130 BT. Topografi desa ini adalah berupa dataran tinggi dengan ketinggian yaitu sekitar 70 – 1000 m di atas permukaan air laut. Desa Banggle berada diantara 4 desa lain yang juga masih termasuk dalam wilayah kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Papungan, sebelah timur berbatasan dengan Desa Sawentar, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kanigoro, dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Tingal. Desa Banggle mempunyai lima dusun, yaitu Banggle, Koripan, Semanding, Gondoroso, Pakel, dan Sumber Agung.
Desa Banggle merupakan wilayah yang terdiri dari pemukiman penduduk, lahan persawahan, lahan ladang, lahan pemakaman, Perkantoran dan lahan prasarana umum lainnya dengan luas wilayah desa 0.086 Km2 atau 586.19 Ha. Dimana seluas 271.42 Ha adalah pemukiman penduduk, seluas 257.04 Ha untuk lahan persawahan, seluas 2.70 Ha untuk pemakman, seluas 0.140 Ha untuk perkantoran, seluas 12.89 Ha untuk lahan Tegal/ladang, dan 41.00 Ha untuk prasarana umum lainnya. Melihat hal itu, secara umum mata pencaharian masyarakat Desa Banggle dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor, yaitu pertanian, jasa/perdagangan, industri dan lain-lain, dengan tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Banggle Rp.40.000,-/ per hari.
Terkait sejarah terbentuknya Desa Banggle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar secara pasti belum dapat ditemukan, sumber sejarah hanya dari cerita orang tua (sesepuh) secara turun-temurun. Waktu itu disana - sini disepanjang mata memandang hanya nampak semak belukar pohon Benggle yaitu sebangsa pohon Temu Ireng. Setelah dibabat dan menjadi pemukinan penduduk, lama kelamaan orang-orang menyebut desa ini dengan sebutan Desa Banggle.
Berkaitan dengan letaknya yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah suasana budaya Jawa sangat terasa di Desa Banggle. Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, pithonan, tingkeban dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa. Selain itu ada rutinan yang dilakukan setiap malam Jum’at, yasinan. Yasinan merupakan tradisi lama yang masih dipegang oleh kalangan masyarakat Jawa, khususnya kalangan Nahdlatul Ulama’. Tradisi ini merupakan bentuk ijtihad para ulama untuk mensyiarkan islam dengan jalan mengajak masyarakat agraris yang penuh mistis dan animisme untuk mendekatkan diri kita pada ajaran islam melalui cinta membaca Al Qur’an, salah satunya Surat Yasin sehingga disebut dengan Yasinan.
Berkaitan dengan potensi desa, Desa Banggle termasuk desa yang sangat berpotensi. Mengapa penulis mengatakan demikian? Karena desa ini memiliki sesuatu hal yang jarang atau bahkan tidak dimiliki desa lain. Sesuatu yang dimaksud itu adalah desa berseri, bank sampah, pasar, stasiun radio dan pengolahan biogas dari kotoran sapi. Untuk penjelasanya sebagai berikut.
Desa Berseri
Desa Bersih dan Lestari (Berseri), merupakan kegiatan untuk memcu pengelolaan lingkungan yang berbasis partisipasi pemerintah desa beserta aparaturnya dan masyarakat di tingkat RT, yang didukung oleh kader lingkungan di masing-masing desa. Kegiatan ini erat dengan program berseri di tingkat Provinsi Jawa Timur. Desa Berseri (Bersih dan Lestari) adalah salah satu program pemerintah desa dalam rangka mendorong terciptanyan kesadaran warga dan menambah pengetahuan serta wawasan masyarakat desa dalam upaya pelestarian lingkungan hidup sehingga dapat terwujud desa yang bersih, sehat, lestari dan asri.
Desa Banggle sudah mendapat penghargaan sebagai Desa Berseri Tingkat JATIM. Mulai tahun 2014 dalam kategori Pratama. Kemudian dilanjutkan kategori Madya tahun 2015. Sampai akhirnya mendapat penghargaan di kategori Mandiri di tahun 2019. Hal itu merupakan poin plus tersendiri, karena selain meningkatkan nama baik desa, adanya program tersebut juga meningkatkan semangat masyarakat untuk senantiasa menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, lestari dan asri.
Bank Sampah
Bank sampah adalah suatu wadah masyarakat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah – pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan diolah sebagai kerajinan atau disetor ke pengepul sampah. Lokasi Bank Sampah berada di lingkungan RT 03 Rw 09 Dusun Semanding Desa Banggle. Bank Sampah ini berdiri sejak tanggal 5 Juli 2017. Nama Bank Sampahnya adalah “BANK SAMPAH BERSERI”. Tahun lalu Bank Sampah ini beranggotakan ibu-ibu PKH warga Semanding. Tetapi mulai sekarang anggota Bank Sampah semua Ibu – Ibu warga lingkungan RT 03 Rw 09 Dusun Semanding Desa Banggle yang bersifat wajib. Jika tidak bisa hadir akan dikenakan denda sebesar Rp 10.000. Pertemuan Bank Sampah dilaksanakan satu bulan sekalli, yaitu pada Minggu terakhir. Pertemuan ini bertempat di Rumah Bapak RT. Ibu – Ibu setiap bulannya membawa sampah ke rumah Bapak RT untuk dibeli oleh pengerajin atau bisa disetor ke pengepul sampah. Untuk uang hasil sampah ditabung dan akan diambil nanti menjelang puasa.
Terkait kerajinan yang dihasilkan dihasilkan “BANK SAMPAH BERSERI” diantaranya adalah tas dari gelas plastik dan bungkus kopi, tempat tisu, gaun dari bahan bekas, hiasan bunya dari plastik, piring dari gelas plastik dan masih banyak yang lainya.
Adapun manfaat dari adanya Bank Sampah antara lain membantu menangani pengolahan sampah, menyadarkan masyarakat akan lingkungan sehat, rapi dan bersih, mengubah sampah menjadi suatu barang yang berguna, misalnya untuk membuat kerajinan, dapat menambah penghasilan warga, dan menambah Kas RT. Selain hal tersebut, Bank Sampah juga sebagai wadah masyarakat untuk menjalin silaturahmi. Selain pengumpulan sampah, Bank Sampah ini juga mempunyai agenda lain, seperti arisan, membahas program kerja RT, dan juga diskusi isu-isu sosial masyarakat.
Pasar “Suraya”
Pasar Suraya merupakan pasar desa yang diresmikan pada tanggal 20 November 2015 Oleh Bupati Blitar. Pasar desa adalah salah satu unit usaha yang bisa dijalankan oleh BUMDES. pasar desa yang berfungsi untuk memasarkan produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat desa dan sebagai sumber pendapatan bagi Pemerintahan Desa. BUMDES yang memiliki beberapa unit usaha, pengelolaan pasar desa dapat berbadan hukum lembaga bisnis seperti perseroan. Sedangkan BUMDES yang hanya memiliki usaha pasar desa saja, pendiriannya cukup melalui Peraturan Desa tentang Pendirian BUMDES.
Pasar Suraya merupakan wadah bagi masyarakat Banggle untuk membuka usaha dibidang perdagangan. Pasar ini sangat membantu masyarakat Banggle, karena dengan adanya pasar ini masyarakat tidak perlu pergi ke pasar Kecamatan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Selain itu, adanya pasar desa diharapkan mampu meningkatkan perekonomian desa dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah Kabupaten/Kota.
Stasiun Radio “AJ FM”
Desa Banggle juga mempunyai stasiun radio. Stasiun radio ini masih dalam kategori komunitas. Untuk nama radionya adalah AJ FM. Radio Komunitas ini berdiri sejak 18 September 2012. Lokasi AJ FM berada di Jalan Masjid No.23 Dsn. Koripan RT. 03 RW. 11 Ds. Banggle Kec. Kanigoro Kab. Blitar. Untuk Frekuensi dari AJ FM adalah 102,9 Mhz.
Radio Komunitas AJ FM adalah salah satu Radio Komunitas yang ada di Kabupaten Blitar, yang tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat Kecamatan Kanigoro khususnya dan masyarakat Kota Blitar umumnya. Supaya Radio Komunitas AJ FM benar-benar dimiliki, dicintai dan dinikmati oleh komunitasnya, Radio selalu memadukan teknologi informasi dengan keinginan komunitasnya. Dengan demikian dapat bersaing dan memberikan pelayanan kepada komunitasnya, sehingga mampu menyebarkan informasi, meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempunyai hubungan yang harmonis dan positif serta bersahabat. Low profil gaya siaranya.
Lemahnya informasi di tingkat bawah / akar rumput membuat pembangunan dan kesejahteraan tersendat juga terhambat. Itulah sebabnya sebagian masyarakat terketuk kepedulianya untuk memberikan informasi melalui berbagai media. Media yang diinginkan adalah media Radio. Melalui proses musyawarah terbentuklah sebuah lembaga penyiaran radio komunitas dari, oleh dan untuk komunitas Kecamatan Kanigoro. Melalui radio komunitas ini diharapkan dapat mengatasi lemahnya informasi sekaligus memberikan hiburan yang sehat sesuai dengan situasi dan kondisi komunitas.
Biogas
Keterbatasan dan kelangkaan jumlah energi yang berasal dari bahan bakar minyak sebagai sumber energi tak terbarukan menuntut kita untuk mencari pengembangan sumber energi alternatif lain yang jumlahnya cukup melimpah dan ramah lingkungan. Dalam hal ini, biogas bisa menjadi alternatif. Pengembangan energi alternatif ini menjadi instrumen strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menciptakan keberlanjutan lingkungan.
Biogas ini merupakan salah satu energi yang dapat dikembangkan di tingkat lokal. Sebenarnya semua kotaran ternak bisa dijadikan sebagai sumber biogas. Untuk sumber biogas yang dipakai di Desa Banggle adalah kotoran sapi (tlethong). Produk utama biogas secara umum digunakan untuk bahan bakar memasak, namun biogas di Desa Banggle ini sudah dikembangkan untuk nenyalakan lampu. Lampu yang digunakan adalah lampu petromak.



